7

Wah ini adalah posting pertama yang di dukung oleh Windows 7 Professional hehehe 😆

windows 7 desktop

windows 7 desktop

dan yang terpenting, ini aseli.. wehehe, mumpung masih jadi mahasiswa, masih kebagian jatah.. 😆

genuine bin aseli

genuine bin aseli

Nah seterusnya mau lanjut utik-utik upil eh 7 dulu.. hohoho.. 😀

Advertisements

Indonesia Pusaka

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Demikian petikan dari lagu Indonesia Pusaka yang diciptakan oleh Bapak Ismail Marzuki. Lagu ini akrab kita dengarkan sewaktu peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Fakta menarik lagu ini, bahwa sebenarnya ada dua versi dari lagu ini, namun yang acapkali muncul dan dikumandangkan adalah versi yang pertama, yang saya tulis di awal.

Hari kemerdekaan RI di Yogyakarta dan Jawa Tengah biasanya diperingati dengan mengadakan acara malam tirakatan, pada malam sebelum peringatan hari kemerdekaan. Bagi anak-anak, acara tirakatan menjadi acara yang dinanti-nanti. Saat mereka akan mendapatkan jerih payah dari usaha yang mereka lakukan saat mengikuti lomba-lomba tujuhbelasan. Bagi yang muda, acara ini menjadi ajang untuk latihan berorganisasi sembari memperkenalkan dan mengakrabkan diri dengan lingkungan sekitar. Bagi yang lebih tua, acara ini menjadi sekadar ajang reunian, bertemu, saling berbagi kabar cerita.

Kemaren malam, di kampung saya, di ajang tirakatan ini, menjadi acara saat orang-orang yang lebih tua memberikan cerita, gambaran tentang perjuangan pada masa lalu, masa-masa Clash 1 dan Clash 2, masa-masa agresi militer Belanda, saat-saat Indonesia berjuang untuk mempertahankaan kemerdekaan yang baru diproklamirkan seumur jagung dan masih berusaha mendapatkan pengakuan dari dunia.

Kalau mendengarkan cerita dari para narasumber yang di undang ke depan untuk berbagi cerita, saya jadi teringat mendiang simbah kakung saya, bapak dari bapak saya. Saya sudah sering mendengar cerita-cerita model beginian dari Mbahkung, panggilan saya untuk simbah, lumayan banyak, maklum Mbahkung dulu seorang tentara, bekas PETA, lanjut ke TNI. Saya dulu sih seringnya bosan, memang pada awalnya menarik, namun lama-kelamaan karna tidak banyak cerita yang ada di luar yang sudah sering di ceritakan ya saya jadi tidak terlalu tertarik lagi kepada cerita-serita simbah.

Namun sekarang, saat mendengar cerita yang hampir sama, secara kronologis, saya pasti teringat simbah. Dulu begitu senangnya saya cerita perang simbah, saya kalau liburan sekolah, maen ke rumah simbah di kalasan, pasti minta di buatkan senapan dari gedebog (batang) pisang :lol:. Saya sering berandai-andai kalau sekarang simbah masih hidup, bagaimana reaksi beliau kalau saya perlihatkan mainan semacam Air Soft Gun, dan semacemnya :-D.

Kalau cerita perang jaman dahulu berkumandang, secara ostosmastis biasanya lagu yang terngiang di kepala saya ya lagu Indonesia Pusaka ini. Ini menjadi salah satu alasan saya sangat memfavoritkan lagu ini. Istilahnya, sampai bergetar hati saya kalau dengar lagu ini, weittsss :-D. Entah faktor aransemen atau lirik atau faktor simbah saya juga.

Hidup sekarang di Indonesia ini menurut saya membuat bingung banyak orang dibanding jaman dahulu. Katakanlah, hidup jaman dahulu lebih mudah untuk mendefinisikan apa arti berjuang dan berkorban demi negara. Tapi toh ini hanya pendapat saya pribadi, mungkin orang lain mempunyai pandangan lain yang berbeda. Apapun itu, pada dasarnya, ini menurut saya juga, kita tidak usah mempermasalahkan bagaimana bentuknya sekarang, yang penting tetaplah kita ingat Indonesia ini sebagai titipan, sebuah pusaka, dari Tuhan Yang Maha Esa kepada kita, untuk kemudian kita teruskan kepada generasi setelah kita nantinya. Makanya kita harus terus memperjuangkan dan mempertahankan Indonesia, kasiha pendahulu kita kalau sekarang kita mudah tercerai berai hanya karena sekadar salah paham atau karena tiada toleransi, tepo sliro, atau apa saja istilah lainnya.

Menutup tulisan ini, saya mengutip dari sambutan Walikota Yogyakarta pada sambutan malam peringatan hari kemerdekaan RI yang kira-kira intinya begini:

Sekarang sudah saatnya kita kembali menjadi satu dalam kebersamaan dan keberagaman, sudah bukan masanya kita menjunjung tinggi ego pribadi kita tanpa menghiraukan atau mendahulukan kepentingan bersama yang menyangkut hajat hidup orang yang lebih banyak atau masyarakat, namun juga jangan sampai kita melupakan hak dan martabat tiap individu yang notabene merupakan penyusun dari masyarakat itu sendiri, satu penting untuk semua, dan semua penting untuk satu, dirgahayu Indonesia, Merdeka, Merdeka, Merdeka!

NB: Saya juga heran kenapa saya sampai menulis hal seperti ini, hehehe euforia hari kemerdekaan mungkin, biarlah, toh sekali setahun ini, kapan lagi ada kesempatan untuk kembali berfikir dan berefleksi atau ber-kontemplasi sebagai seorang rakyat dan bagian dari bangsa dan negara Indonesia ;-). Maka dengan ini saya sekali lagi memekik dengan bangga, MERDEKA!